Ini Bedanya Real Estate Dan Real Property Menurut Hukum

Ini Bedanya Real Estate Dan Real Property Menurut Hukum

Dalam diskusi sehari-hari, tak jarang orang beranggapan bahwa real estate dan real property (sering disebut juga realty) adalah sama. Memang tidak sepenuhnya keliru, namun tetap perlu diluruskan sebab dari kacamata hukum serta keperluan teknis keduanya berbeda. 

Di kalangan masyarakat majemuk, istilah real estate kerap diganti dengan real estate  atau lahan yasan dan itu bukan masalah. Real estate atau real estate menurut hukum berkenaan dengan lahan/tanah beserta seluruh bangunan dan elemen-elemen lain yang melekat di atasnya. Adapun bangunan yang dimaksud bukan sebatas rumah/perumahan saja, real estate menurut hukum membaginya ke dalam beberapa kategori yakni area komersial dan industri. Area komersial contohnya seperti pusat perbelanjaan, objek wisata buatan, dan sebagainya. Kategori industri semisal pabrik, perkantoran, dan lain-lain. 

Sementara itu, real property berdasarkan hukum dikaitkan dengan hubungan hukum antara objek dan subjek, meliputi segala kepentingan serta hak-hak yang menyangkut kepemilikan tanah, bangunan, hingga elemen-elemen lain yang terdapat pada objek tersebut sedetail-detailnya.

Jadi secara sederhana real estate menurut hukum itu ialah objeknya saja. Sedangkan real property melibatkan objek dan subjek. Isitikah ini mirip seperti apartemen dan kondominium. Real estate ibarat apartemen yang merupakan sebuah bangunan dalam bentuk beberapa hunian sekaligus di dalamnya. Sementara itu, real property diibaratkan kondominium yang berhubungan dengan kepemilikan dari beberapa subjek sekaligus. 

Contoh Real Property Dan Real Estate Menurut Hukum 

Beberapa berikut ini mungkin bisa membuat Anda lebih mudah memahami perbedaan antara real property dengan real estate dari kacamata hukum: 

  • Apabila seseorang secara sah memiliki sebidang tanah, namun tidak ada bangunan yang berdiri di atasnya dalam bentuk apapun, maka ia dapat disebut memiliki real property. Hal tersebut dikarenakan ia hanya memiliki objek nyata (sebidang tanah) yang berkekuatan hukum tetap, tapi tidak punya kepemilikan atas bangunan di atasnya. 
  • Apabila seseorang menyewa sebidang tanah dan bangunan, maka ia dinamakan memiliki real estate. Sebab, ia tak punya hak milik atas bangunan dan bangunan yang disewa, namun punya hak untuk menggunakannya sepanjang perjanjian sewa-menyewa. 
  • Apabila seseorang memiliki unit apartemen, maka ia dikatakan memiliki real estate. Sebab selain hak atas bangunan , ia juga memiliki hak atas tanah tempat apartemen tersebut dibangun. 

Real Estate Di Indonesia 

Perkembangan real estate/estate wajarnya mengikuti pertumbuhan ekonomi suatu negara atau wilayah. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin gencar pula pemanfaatan lahan yang tersedia untuk pembangunan hunian beserta infrastruktur di dalamnya. Menurut C. Djemabut Blaang, industri real estate di Indonesia dimulai pada tahun 1970-an. Kala itu, tingkat pendapatan perkapita naik. Pencapaian tersebut secara tidak langsung menimbulkan kosekuensi dalam hal penyediaan sarana dan prasarana, baik untuk mendukung aktivitas masyarakat maupun kepentingan investasi. 

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi turut memberikan angin segar untuk industri konstrukusi yang semula pasif dan cenderung terpusa pada anggaran pembangunan. Industri konstruksi yang mulai menggeliat kemudian melahirkan pengusaha/perusahaan pembangunan atau yang lebih familiar disebut dengan developer/pengembang. 

Sesuai namanya, pengusaha pembangunan merupakan orang yang berada di bawah naungan perusahaan tertentu yang bekerja di bidang pembangunan pemukiman dalam jumlah jamak beserta prasarana dan fasilitas sosial di atas satu areal lahan. Selanjutnya, mengenai pelaksanaan kebijakan menyangkut penyediaan dan pemberian tanah diatur dalam PMDN Nomor 5 Tahun 1974 pasal 5.

Demikian perbedaan antara real estate dan real property dari kacamata hukum. Semoga dapat dipahami dengan baik. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *